Kamis, 18 Desember 2014
Penduduk Miskin, Konsep Definisi, Kriteria Pengertian Penghitungan dan Variabelnya Menurut BPS
Penduduk Miskin, Konsep Definisi Kriteria Pengertian Penghitungan dan Variabelnya Menurut BPS
1.Penduduk Miskin
Konsep:
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.
Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Garis Kemiskinan (GK)
Konsep:
Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.
Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll)
Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.
Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :
GK = GKM + GKNM
GK= Garis Kemiskinan
GKM= Garis Kemiskinan Makanan
GKNM= Garis Kemiskinan Non Makan
Teknik penghitungan GKM
o Tahap pertama adalah menentukan kelompok referensi (reference populaion) yaitu 20 persen penduduk yang berada diatas Garis Kemiskinan Sementara (GKS). Kelompok referensi ini didefinisikan sebagai penduduk kelas marginal. GKS dihitung berdasar GK periode sebelumnya yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).
o Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan yang riil dikonsumsi penduduk referensi yang kemudian disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah :
Dimana :
GKMj = Garis Kemiskinan Makanan daerah j (sebelum disetarakan menjadi 2100 kilokalori).
Pjk = Harga komoditi k di daerah j.
Qjk = Rata-rata kuantitas komoditi k yang dikonsumsi di daerah j.
Vjk = Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi k di daerah j.
j = Daerah (perkotaan atau pedesaan)
Selanjutnya GKMj tersebut disetarakan dengan 2100 kilokalori dengan mengalikan 2100 terhadap harga implisit rata-rata kalori menurut daerah j dari penduduk referensi, sehingga :
Dimana :
Kjk = Kalori dari komoditi k di daerah j
HKj = Harga rata-rata kalori di daerah j
Dimana :
Fj = Kebutuhan minimum makanan di daerah j, yaitu yang
menghasilkan energi setara dengan 2100 kilokalori/kapita/hari.
o Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan dsan kesehatan. Pemilihan jenis barang dan jasa non makanan mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari tahun ke tahun disesuaikan dengan perubahan pola konsumsi penduduk. Pada periode sebelum tahun 1993 terdiri dari 14 komoditi di perkotaan dan 12 komoditi di pedesaan. Sejak tahun 1998 terdiri dari 27 sub kelompok (51 jenis komoditi) di perkotaan dan 25 sub kelompok (47 jenis komoditi) di pedesaan.
Nilai kebutuhan minimum perkomoditi /sub-kelompok non-makanan dihitung dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalam data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKP 2004), yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumah tangga per komoditi non-makanan yang lebih rinci dibanding data Susenas Modul Konsumsi. Nilai kebutuhan minimum non makanan secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :
Dimana:
NFp = Pengeluaran minimun non-makanan atau garis kemiskinan non
makanan daerah p (GKNMp).
Vi = Nilai pengeluaran per komoditi/sub-kelompok non-makanan
daerah p (dari Susenas modul konsumsi).
ri = Rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok non-makanan
menurut daerah (hasil SPPKD 2004).
i = Jenis komoditi non-makanan terpilih di daerah p.
p = Daerah (perkotaan atau pedesaan).
III. Persentase Penduduk Miskin
Kosep :
Head Count Index (HCI-P0), adalah persentase penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan (GK).
Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :
Dimana :
α = 0
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada
dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, …., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.
Indeks Kedalaman Kemiskinan
Kosep :
Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1), merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran pesuduk dari garis kemiskinan.
Suber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :
Dimana :
α = 1
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada
dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, …., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.
Indeks Keparahan Kemiskinan
Konsep :
Indeks Keparahan Kemiskinan (Proverty Severity Index-P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.
Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :
D Dimana :
α = 2
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada
dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, …., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.
Selasa, 05 Agustus 2014
Konsep Definisi Beda Hasil Juga Beda
Konsep Definisi Beda Hasil Juga Beda
Satu Kesatuan Konsep Definisi untuk mendeskripsikan sesuatu benda,orang,tempat dan hal lainnya sangat diperlukan agar didapatkan pengertian, hasil dan keterbandingan yang bersifat Universal menyeluruh.
Kali ini Konsepdefinisi mencoba untuk sedikit mengulas tentang Pentingnya Konsep Definisi yang sama dengan cerita yang mungkin sudah pernah pembaca temukan tentang "Empat orang Buta yang mendeskripsikan Gajah 20px;"> Karena mereka sama sekali tidak mengetahui bentuk rupa Gajah maka mereka hanya bisa meraba saja.
Keempat Orang Buta ini masing masing hanya meraba bagian tertentu saja dari sang Gajah;
Orang Buta Pertama Meraba Bagian "telinga" Gajah
Orang Buta Kedua Meraba Bagian "Perut" Gajah
Orang Buta Ketiga Meraba Bagian "Kaki" Gajah , sedangkan
Orang Buta Keempat Meraba Bagian "Belalai" Gajah.
Ketika Masing Masing Orang Buta tersebut diminta untuk mendeskripsikan tentang Konsep definisi "Gajah" maka mereka akan menguraikan sesuai bagian yang mereka raba masing masing seperti berikut:
Orang Buta Pertama yg meraba "Telinga" mendeskrifsikan gajah itu Luas dan lebar terasa, kasar, tipis seperti tampah.
Orang Buta Kedua yg meraba "Perut" Mendeskripsikan gajah itu Besar kasar dan bulat seperti gentong atau Bedug di masjid.
Orang Buta Ketiga yg meraba "Kaki" mengatakan gajah itu tegak lurus kuat seperti pohon kelapa, dan
Orang Buta Terakhir "keempat" yg meraba "Belalai" mengatakan gajah itu bulat lentur seperti Ular dan bersuara nyaring.
Dari kisah tersebut di atas dapat kita lihat bahwa masing masing orang buta tersebut mendeskripsikan "Gajah" secara benar akan tetapi apa yang digambarkan oleh masing masing bukanlah Deskripsi "Gajah" secara keseluruhan sehingga hasil yang diperoleh akan berbeda.
Konsep Definisi yang belum bersifat Universal dari masing masing orang buta di atas mengakibatkan hasil yang berbeda. Tulisan ini penulis kaitan dengan perbedaan data Jumlah Penduduk ataupun Jumlah Pemilih yang berbeda jauh khususnya berkenaan dengan Pemilihan Presiden PILPRES 2014 di Kabupaten PAPUA yang sangat berbeda jauh antara Data Jumlah Penduduk terutama Versi BPS yang lebih kecil dari Jumlah DPT di Kabupaten Papua tersebut.
Perbedaan ini menurut penulis adalah akibat dari perbedaan Konsep Definisi Penduduk yang dipergunakan oleh masing masing (dalam hal ini BPS dan Dinas Kependudukan/KPU) yang belum satu kata.
Minggu, 05 Januari 2014
Konsep Definisi Istilah dalam PDB/PDRB
Konsep Definisi Istilah dalam PDB/PDRB
Laju Pertumbuhan PDB/PDRB Economy Growth
Konsep dan DefinisiMenunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dalam selang waktu
tertentu. Pertumbuhan ekonomi sama dengan pertumbuhan PDB. Untuk menghitung pertumbuhan ekonomi
menggunakan PDB atas dasar harga konstan dengan tahun dasar tertentu untuk mengeliminasi faktor kenaikan harga.
Indeks Implisit Implicit Indeks
Konsep dan Definisi
Suatu indeks yang menunjukkan tingkat perkembangan harga di tingkat produsen (producer price index).
Distribusi Persentase PDB/PDRB Distribution of GDP/GRDP
Konsep dan DefinisiSumbangan dari setiap satuan unit pengamatan (lapangan usaha dalam PDB/PDRB sektoral atau penggunaan
dalam PDRB/PDB pengeluaran) terhadap total agregat PDRB/PDB yang dinyatakan dalam persentase.
PDB/PDRB per Kapita GDP/GDRP per Capita
Konsep dan DefinisiMerupakan nilai PDB atau PDRB dibagi jumlah penduduk dalam suatu wilayah per periode tertentu.
KONSEP DEFINISI PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)
Produk Domestik Bruto (PDB)/Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Gross Domestic Product/Gross Domestic Regional Product
Gross Domestic Product/Gross Domestic Regional Product
Konsep dan Definisi:
Nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu wilayah dalam suatu jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).
PDB terbagi menjadi dua jenis yaitu PDB atas dasar harga berlaku (nominal) dan atas dasar harga konstan (riil). PDB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun, sedangkan PDB atas dasar harga berlaku digunakan untuk menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan suatu negara. Untuk PDRB, secara keseluruhan sama dengan PDB, yang membedakan hanya PDB dalam lingkup nasional dan PDRB dalam lingkup yang lebih kecil (wilayah).
Terdapat tiga pendekatan untuk menghitung PDB/PDRB, yaitu pendekatan produksi,pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.
Pendekatan produksi Menghitung nilai tambah seluruh kegiatan ekonomi dengan cara mengurangkan biaya antara dari masingmasing total nilai produksi (output) tiap tiap sektor atau subsektor, yang terbagi
dalam 9 sektor.
Pendekatan pengeluaran PDB diperoleh dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima oleh
faktor‐ faktor produksi.
Pendekatan pendapatan PDB diperoleh dari hasil penjumlahan semua komponen permintaan akhir.
Rabu, 25 September 2013
Pidato Kepala BPS RI dalam Upacara Peringatan Hari Statistik 2013
Pidato Kepala BPS RI dalam Upacara Peringatan Hari Statistik 2013
Peringatan Hari Statistik tahun 2013 ini Jatuh pada hari Kamis 26 September 2013; seluruh Insan BPS pada hari ini di seluruh wilayah Republik Indonesia Menyelenggarakan Upacara Peringatan Hari Statistik Nasional (HSN) Tahun 2013.
Berikut adalah Pidato Kepala BPS RI yang disampaikan dalam Upacara Peringatan Hari Statistik Nasional 2013 (HSN 2013) di Seluruh Provinsi dan Kabupaten Kota di Indonesia:
SAMBUTAN KEPALA BPS-RI
PADA ACARA
PERINGATAN HARI STATISTIK NASIONAL
JAKARTA, 26 SEPTEMBER 2013
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi dan
salam sejahtera bagi kita semua
Marilah
kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa,
Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya kepada kita masih diberi
kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melaksanakan upacara peringatan Hari
Statistik Nasional yang jatuh tepat pada hari ini, Kamis, 26 September 2013.
Saudara-saudara
sekalian,
Sejak
beberapa minggu yang lalu, semangat perayaan Hari Statistik yang semarak,
ramai, dan gegap gempita sangat terasa. Berbagai perlombaan di tingkat pusat sudah
kita gelar, mulai dari lomba kebersihan, pertandingan futsal dan volley putra,
lomba menghias tumpeng, dan gerak jalan santai. Bahkan, bukan hanya pegawai,
para pejabat eselon 1 dan 2 pun ikut meramaikan peringatan Hari Statistik
Nasional dengan berpartisipasi dalam pertandingan volley. Saya juga mendengar
bahwa BPS di berbagai daerah juga melaksanakan berbagai macam kegiatan yang
tidak kalah semaraknya.
Berbagai
bentuk perlombaan tersebut bukan sekadar untuk bersenang-senang apalagi untuk
santai atau menghindar dari kewajiban bekerja. Tapi, kesemarakan tersebut
merupakan bentuk perayaan atas capaian yang telah berhasil kita raih sebagai
lembaga penyedia data statistik dan kontribusi yang telah diberikan oleh
statistik itu sendiri dalam mencerdaskan, memajukan, dan membangun bangsa.
Lebih dari itu, momentum ini sebaiknya juga dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan awareness (kesadaran)
dari semua insan statistik akan pentingnya statistik sehingga penerapan SistemStatistik Nasional (SSN) yang efektif dan handal akan dapat dilakukan. Contoh
sederhana saja untuk di tingkat pusat, saat gerak jalan Sabtu kemarin, masyarakat
pasti akan penasaran ketika melihat kita berjalan beriringan, memakai kaos
warna merah bertuliskan 26 September Hari Statistik Nasional. Dari curiosity atau rasa penasaran inilah kita
harapkan kesadaran masyarakat akan BPS, data statistik, dan perannya akan terbangun.
Kita Juga sudah mengirimkan Kartu Pemberitahuan Hari Statistik Nasional kepada
seluruh Kementerian / Lembaga dan seluruh Stakeholder Dalam dan Luar Negeri
yang ada di Indonesia, Gubernur, Bupati, Walikota dan Media Massa sebagai upaya
mensosialisasikan HSN dan website BPS serta permohonan dukungan dalam
penyelenggaraan statistik
Dalam
rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap statistik inilah maka tanggal
25 September 2013 kemarin BPS menyelenggarakan sosialisasi kegiatan BPS tahun
2013 yang dikemas dalam Dialog Interaktif dengan tema “Data Mencerdaskan
Bangsa”. Berbagai stakeholder dan data user diundang untuk menghadiri
acara ini, antara lain dari Kementerian/Lembaga, akademisi, senat mahasiswa, peneliti,
ekonom, LSM, tokoh agama dan masyarakat, berbagai organisasi, serta rekan-rekan
media cetak dan elektronik. Upacara yang sekarang kita ikuti bersama ini
merupakan puncak acara peringatan Hari Statistik Nasional tahun 2013. Semoga
melalui berbagai rangkaian kegiatan tersebut, kita dapat merangkul semua pihak
untuk membangun dan mengembangkan komunikasi, koordinasi dan sinergi yang
positif antara tiga pihak yang sangat terkait dengan statistik dan tidak
terpisahkan, yaitu sumber data, penghasil data (BPS), dan pengguna data.
Saudara-saudara
yang berbahagia,
Tema
Hari Statistik Nasional tahun ini, yaitu “Dengan Semangat Hari Statistik Nasional
Kita Wujudkan Data Statistik yang Akurat dan Terpercaya” pada intinya
mengajak kita semua untuk menghasilkan data yang berkualitas. Memang terdengar
sederhana akan tetapi pada kenyataannya untuk menghasilkan statistik yang
berkualitas sangatlah tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Difficult, but not impossible. Koordinasi
dengan berbagai pihak memang diperlukan, akan tetapi yang terpenting adalah komitmen
dan kesungguhan seluruh jajaran BPS untuk terus meningkatkan kualitas data yang
kita hasilkan dengan berpegang pada Core
Values BPS, Profesional, Integritas, dan Amanah. Ada begitu banyak tahapan
kegiatan, mulai dari persiapan, pelaksanaan, pengolahan, analisis, dan
diseminasi, masing-masing tahapan harus kita cermati dan benar-benar kita
pastikan kualitasnya.
Oleh
karena itu, semua lini BPS, termasuk dari para KSK sebagai ujung tombak
kegiatan kita, saya harapkan dapat mengumpulkan, menghasilkan, dan menyajikan
data yang berkualitas secara baik dan benar. Sempurnakan metodologi, konsep,
dan definisi dari setiap sensus dan survei yang kita laksanakan dengan didukung
teknologi informasi yang mutakhir sehingga kita dapat menghasilkan data secara
akurat, efektif, dan efisien serta dapat menyajikannya secara tepat waktu, menarik
dan sederhana namun tetap informatif.
Saudara-saudara
sekalian,
Saat ini BPS tengah menjalankan banyak kegiatan, baik yang merupakan
tugas rutin maupun ad hoc. Sebagai
informasi, pada tanggal 7-10 Oktober mendatang, BPS akan menjadi tuan rumah
acara berskala internasional, yaitu “International Seminar on Trade and Tourism
Statistics”. Acara tersebut merupakan kerjasama antara UNSD, APEC,
ASEAN Secretariat-AANZFTA, dan BPS yang akan dihadiri oleh peserta dari kurang lebih
30 negara, antara lain negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan negara lain
seperti Jepang, Australia, dan Amerika. Yang ingin saya tekankan adalah jika
sekarang pekerjaan BPS sudah sangat banyak dan bahkan nyaris tanpa jeda, ke
depan volume pekerjaan BPS akan semakin bervariasi dan padat bukan hanya dalam
skala nasional tetapi juga internasional.
Terkait dengan hal ini, pada kesempatan yang baik ini saya minta
Saudara-saudara senantiasa memberikan dukungan terhadap segala aktivitas BPS. Khusus
untuk kegiatan internasional dimana kita menjadi tuan rumahnya, saya berharap
kepada seluruh jajaran BPS Pusat untuk dapat ikut menjadi tuan rumah yang baik,
ramah, dan hangat. Selanjutnya, terus tingkatkan kinerja dan produktivitas,
rencanakan dan organisasikan semua kegiatan dengan baik dan tertib, baik dalam
bidang teknis maupun administratif. Dengan banyaknya kegiatan BPS termasuk
kegiatan yang merupakan kerja sama dengan instansi lain, mengharuskan kita
untuk mematuhi prosedur yang telah ditentukan dan menekankan tentang pentingnya
tertib administrasi. Hal ini akan sangat menentukan apakah BPS ke depannya
masih dapat mempertahankan opini WTP atau tidak dari BPK.
Saudara-saudara yang
saya cintai dan banggakan,
Akhirnya,
sebagai penutup sambutan ini, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan
yang sebesar-besarnya kepada Saudara-saudara atas pengabdian dan komitmen yang
luar biasa terhadap BPS. Selamat Hari Statistik Nasional, semoga kita dapat
senantiasa menghasilkan data yang akurat dan terpercaya seperti tema peringatan
tahun ini.
Demikian
sambutan saya pada kesempatan yang istimewa ini. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan
dan meridhoi usaha kita dalam membangun bangsa dengan data.
Wabillahitaufik
walhidayah
Wassalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh
Jakarta, 26 September 2013
Kepala Badan Pusat Statistik RI,
Dr.
Suryamin
Kamis, 21 Maret 2013
Perjuangan Memperoleh Data
Perjuangan Memperoleh Data
Bagaimana Sulitnya memperoleh data mungkin belum pernah anda bayangkan, dalam video berikut ditampilkan Bagaimana Perjuangan Berat yang harus ditempuh melalui medan yang memiliki tingkat kesulitan dan bahkan mengancam keselamatan nyawa sang PETUGAS STATISTIK untuk mendapatkan isian Quesioner yang mungkin bila ditabulasikan hanya akan menghasilkan beberapa tabel saja atau bahkan hanya menghasilkan SATU ANGKA saja.
Rabu, 23 Januari 2013
Aneka Konsep Definisi Dalam ST2013
Aneka Konsep Definisi Dalam ST2013
| No | Istilah | Deskripsi | ||||||
| 1 | Padang penggembalaan/padang rumput | lahan yang khusus digunakan untuk penggembalaan ternak. Lahan yang sementara tidak diusahakan (dibiarkan kosong lebih dari satu tahun dan kurang dari dua tahun) tidak dianggap sebagai lahan penggembalaan/padang rumput meskipun ada hewan yang digembalakan disana | ||||||
| 2 | Pancing lainnya selain Huhate | Pole and Line yang tidak termasuk Huhate | ||||||
| 3 | Pancing Tonda | pancing yang diberi umpan buatan dan tidak menggunakan joran. Dalam operasinya sejumlah pancing digunakan dan ditarik oleh kapal/ perahu motor secara bersamaan, digunakan untuk menangkap ikan-ikan permukaan | ||||||
| 4 | Pancing Ulur | pancing yang terdiri dari tali dan mata kail, talinya dapat diulur | ||||||
| 5 | Pancing/ Rawai (Hook and Lines) | Salah satu jenis alat tangkap ikan yang berupa tali dan mata pancing. Umumnya pada mata pancing dipasang umpan, baik umpan buatan ataupun umpan asli (alam). Termasuk pancing yang mempunyai mata pancing tanpa kait. Yang termasuk kelompok pancing adalah rawai tuna, rawai hanyut lainnya, rawai tetap, huhate, pancing lainnya selain huhate, pancing tonda, dan pancing ulur. | ||||||
| 6 | Payang (termasuk lampara) | pukat kantong untuk menangkap ikan, yang sayapnya berguna untuk menakuti/ mengejutkan, serta menggiring ikan tersebut supaya masuk kantong. Cara operasinya adalah melingkari gerombolan ikan dan kemudian pukat ditarik ke arah kapal. | ||||||
| 7 | PCL | Pencacah | ||||||
| 8 | Pemacekan | pemeliharaan ternak dengan tujuan digunakan sebagai pejantan | ||||||
| 9 | Pembenihan Ikan | kegiatan pemeliharaan ikan berupa induk ikan dengan tujuan untuk membiakkan (menghasilkan benih ) ikan dalam umur, bentuk, dan ukuran tertentu yang belum dewasa. Termasuk dalam kegiatan ini adalah kegiatan pendederan | ||||||
| 10 | Pembesaran Ikan | kegiatan pemeliharaan ikan berupa benih ikan/gelondongan menjadi ikan sampai umur, bentuk, dan ukuran tertentu yang sudah dewasa sesuai peruntukkannya | ||||||
| 11 | Pembibitan | usaha pemeliharaan ternak dengan tujuan memperoleh anakan, bakalan (ternak muda) dan pullet (ayam ras petelur yang siap produksi). | ||||||
| 12 | Pemda | Pemerintah Daerah | ||||||
| 13 | Pemungutan hasil hutan | kegiatan mengambil benda-benda hayati hutan, dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar atas risiko usaha. Jenis hasil hutan yang biasa dipungut seperti kayu bakar, kayu pertukangan, bambu, rotan, damar, jelutung, jamur, lumut, madu, sarang burung, telur, dan kotoran burung | ||||||
| 14 | Penangkapan ikan | kegiatan menangkap/mengumpulkan ikan/binatang air lainnya/tanaman air yang hidup di laut/perairan umum secara bebas dan bukan milik perseorangan | ||||||
| 15 | Penangkaran | upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya | ||||||
| 16 | Penangkaran satwa/tumbuhan liar | kegiatan kehutanan yang menghasilkan produk/ melakukan pemeliharaan satwa/tumbuhan liar. | ||||||
| 17 | Pendederan Ikan | kegiatan pemeliharaan ikan berupa benih ukuran kecil menjadi benih ukuran lebih besar (tokolan/ gelondongan) | ||||||
| 18 | Pengembangbiakan | usaha pemeliharaan ternak dengan tujuan memperbanyak anak | ||||||
| 19 | Penggemukan | usaha pemeliharaan ternak dengan tujuan meningkatkan bobot/berat badan ternak dengan cara membeli bakalan/anak ternak dan kemudian menjualnya bila sudah cukup umur. | ||||||
| 20 | Perahu Motor Tempel | perahu yang menggunakan mesin (motor tempel) sebagai tenaga penggerak, dan motornya diletakkan diluar baik diburitan maupun disisi perahu. Motor tempel ini dapat dipasang pada jukung ataupun perahu papan. Perahu papan yang menggunakan motor tempel selain menggunakan layar. dimasukkan ke dalam kategori perahu motor tempel | ||||||
| 21 | Perahu papan/rakit | perahu tanpa motor yang dasarnya tunas dari tunas dengan rusuk-rusuk yang diletakkan pada tunas tersebut. Badan perahu dibuat dengan memasang papan pada rusuk-rusuk tersebut. Rakit juga termasuk dalam klasifikasi perahu papan. Perahu papan ini dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: kecil (panjangnya < 7m), sedang (panjangnya 7-10m) dan besar (panjangnya > 10m) | ||||||
| 22 | Perahu tanpa motor | perahu yang tidak menggunakan tenaga mesin sebagai penggerak, tetapi menggunakan layar atau dayung | ||||||
| 23 | Perahu/kapal penangkap ikan | perahu/kapal yang dipergunakan dalam operasi penangkapan binatang/tanaman air baik secara lagsung ataupun tidak langsung | ||||||
| 24 | Perangkap (Traps) | salah satu alat tangkap ikan yang dipasang dalam jangka waktu tertentu, dibuat dari bahan apa saja (jaring, bambu, metal, dsb) | ||||||
| 25 | Perkebunan | Perkebunan adalah lahan yang ditanami tanaman perkebunan/industri, seperti karet, kelapa, kopi, teh, dan sebagainya, baik yang diusahakan oleh rakyat/rumah tangga ataupun perusahaan perkebunan yang berada dalam wilayah kecamatan. | ||||||
| 26 | Pertanian | kegiatan yang meliputi: budi daya tanaman: padi, palawija, hortikultura (sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan tanaman obat), perkebunan, kehutanan (antara lain kayu-kayuan), pemeliharaan ternak/unggas, budi daya dan penangkapan ikan, perburuan, penangkapan atau penangkaran satwa liar, pemungutan hasil hutan, dan jasa pertanian | ||||||
| 27 | Peta | suatu bentuk/gambar sebagian permukaan bumi pada suatu bidang datar yang memberikan informasi tentang keadaan suatu wilayah | ||||||
| 28 | Peta SP2010-WB | peta blok sensus hasil pemetaan tahun 2008 dan 2009 yang digunakan untuk pencacahan Sensus Penduduk 2010 | ||||||
| 29 | Peta ST2013-WB | peta blok sensus hasil updating pemetaan tahun 2012-2013 | ||||||
| 30 | Pindah dalam Blok Sensus | kondisi alamat pada saat pemutakhiran rumah tangga berbeda dengan alamat rumah tangga yang tercetak (tetapi masih dalam satu blok sensus) sedangkan nama kepala rumah tangga tetap sama. Tidak termasuk perbedaan alamat rumah tangga karena terjadi kesalahan penulisan alamat pada saat pencacahan SP2010. | ||||||
| 31 | Pindah Keluar Blok Sensus | kondisi rumah tangga yang nama kepala rumah tangganya tercetak, pada saat pemutakhiran tidak ditemukan, dan setelah dikonfirmasikan dengan tetangga disekitarnya diperoleh informasi bahwa rumah tangga tersebut telah pindah tempat tinggal di luar blok sensus yang sedang dilakukan pemutakhiran. Termasuk pula rumah tangga tunggal yang telah meninggal dunia pada saat pemutakhiran | ||||||
| 32 | Pukat | Salah satu jenis alat tangkap ikan, yang terdiri dari: pukat tarik, pukat kantong, dan pukat cincin. | ||||||
| 33 | Pukat Cincin (Purse Seine) | pukat yang umumnya berbentuk empat persegi panjang tanpa kantong, untuk menangkap ikan permukaan. Dioperasikan dengan cara melingkarkan jaring mengurung gerombolan ikan. Setelah ikan terkurung, maka bagian bawah jaring ditutup dengan menarik tali yang dipasang sepanjang bagian jaring melalui cincin. | ||||||
| 34 | Pukat Kantong (Seine Net) | pukat yang memiliki kantong dan 2 buah sayap. Pukat jenis ini dioperasikan dengan cara menarik jaring tersebut ke arah kapal yang berhenti atau ke darat melalui sayapnya. | ||||||
| 35 | Pukat Pantai (Jaring Arad) | pukat kantong yang dalam cara operasi penangkapannya dilakukan dengan menarik pukat kantong ini ke pantai | ||||||
| 36 | Pukat Tarik Udang Ganda/ Tunggal | pukat yang khusus digunakan dalam penangkapan udang. |
Selengkpanya lihat di http://st2013.bps.go.id
Langganan:
Postingan (Atom)