Kamis, 18 Desember 2014
Penduduk Miskin, Konsep Definisi, Kriteria Pengertian Penghitungan dan Variabelnya Menurut BPS
Penduduk Miskin, Konsep Definisi Kriteria Pengertian Penghitungan dan Variabelnya Menurut BPS
1.Penduduk Miskin
Konsep:
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.
Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Garis Kemiskinan (GK)
Konsep:
Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.
Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll)
Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.
Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :
GK = GKM + GKNM
GK= Garis Kemiskinan
GKM= Garis Kemiskinan Makanan
GKNM= Garis Kemiskinan Non Makan
Teknik penghitungan GKM
o Tahap pertama adalah menentukan kelompok referensi (reference populaion) yaitu 20 persen penduduk yang berada diatas Garis Kemiskinan Sementara (GKS). Kelompok referensi ini didefinisikan sebagai penduduk kelas marginal. GKS dihitung berdasar GK periode sebelumnya yang di-inflate dengan inflasi umum (IHK). Dari penduduk referensi ini kemudian dihitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).
o Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah jumlah nilai pengeluaran dari 52 komoditi dasar makanan yang riil dikonsumsi penduduk referensi yang kemudian disetarakan dengan 2100 kilokalori perkapita perhari. Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Penyetaraan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan dilakukan dengan menghitung harga rata-rata kalori dari ke-52 komoditi tersebut. Formula dasar dalam menghitung Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah :
Dimana :
GKMj = Garis Kemiskinan Makanan daerah j (sebelum disetarakan menjadi 2100 kilokalori).
Pjk = Harga komoditi k di daerah j.
Qjk = Rata-rata kuantitas komoditi k yang dikonsumsi di daerah j.
Vjk = Nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditi k di daerah j.
j = Daerah (perkotaan atau pedesaan)
Selanjutnya GKMj tersebut disetarakan dengan 2100 kilokalori dengan mengalikan 2100 terhadap harga implisit rata-rata kalori menurut daerah j dari penduduk referensi, sehingga :
Dimana :
Kjk = Kalori dari komoditi k di daerah j
HKj = Harga rata-rata kalori di daerah j
Dimana :
Fj = Kebutuhan minimum makanan di daerah j, yaitu yang
menghasilkan energi setara dengan 2100 kilokalori/kapita/hari.
o Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) merupakan penjumlahan nilai kebutuhan minimum dari komoditi-komoditi non-makanan terpilih yang meliputi perumahan, sandang, pendidikan dsan kesehatan. Pemilihan jenis barang dan jasa non makanan mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari tahun ke tahun disesuaikan dengan perubahan pola konsumsi penduduk. Pada periode sebelum tahun 1993 terdiri dari 14 komoditi di perkotaan dan 12 komoditi di pedesaan. Sejak tahun 1998 terdiri dari 27 sub kelompok (51 jenis komoditi) di perkotaan dan 25 sub kelompok (47 jenis komoditi) di pedesaan.
Nilai kebutuhan minimum perkomoditi /sub-kelompok non-makanan dihitung dengan menggunakan suatu rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok tersebut terhadap total pengeluaran komoditi/sub-kelompok yang tercatat dalam data Susenas modul konsumsi. Rasio tersebut dihitung dari hasil Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar 2004 (SPKKP 2004), yang dilakukan untuk mengumpulkan data pengeluaran konsumsi rumah tangga per komoditi non-makanan yang lebih rinci dibanding data Susenas Modul Konsumsi. Nilai kebutuhan minimum non makanan secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :
Dimana:
NFp = Pengeluaran minimun non-makanan atau garis kemiskinan non
makanan daerah p (GKNMp).
Vi = Nilai pengeluaran per komoditi/sub-kelompok non-makanan
daerah p (dari Susenas modul konsumsi).
ri = Rasio pengeluaran komoditi/sub-kelompok non-makanan
menurut daerah (hasil SPPKD 2004).
i = Jenis komoditi non-makanan terpilih di daerah p.
p = Daerah (perkotaan atau pedesaan).
III. Persentase Penduduk Miskin
Kosep :
Head Count Index (HCI-P0), adalah persentase penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan (GK).
Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :
Dimana :
α = 0
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada
dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, …., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.
Indeks Kedalaman Kemiskinan
Kosep :
Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1), merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran pesuduk dari garis kemiskinan.
Suber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :
Dimana :
α = 1
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada
dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, …., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.
Indeks Keparahan Kemiskinan
Konsep :
Indeks Keparahan Kemiskinan (Proverty Severity Index-P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.
Sumber Data :
Sumber data utama yang dipakai adalah data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Panel Modul Konsumsi dan Kor.
Rumus Penghitungan :
D Dimana :
α = 2
z = garis kemiskinan.
yi = Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang berada
dibawah garis kemiskinan (i=1, 2, 3, …., q), yi < z
q = Banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
n = jumlah penduduk.
Selasa, 05 Agustus 2014
Konsep Definisi Beda Hasil Juga Beda
Konsep Definisi Beda Hasil Juga Beda
Satu Kesatuan Konsep Definisi untuk mendeskripsikan sesuatu benda,orang,tempat dan hal lainnya sangat diperlukan agar didapatkan pengertian, hasil dan keterbandingan yang bersifat Universal menyeluruh.
Kali ini Konsepdefinisi mencoba untuk sedikit mengulas tentang Pentingnya Konsep Definisi yang sama dengan cerita yang mungkin sudah pernah pembaca temukan tentang "Empat orang Buta yang mendeskripsikan Gajah 20px;"> Karena mereka sama sekali tidak mengetahui bentuk rupa Gajah maka mereka hanya bisa meraba saja.
Keempat Orang Buta ini masing masing hanya meraba bagian tertentu saja dari sang Gajah;
Orang Buta Pertama Meraba Bagian "telinga" Gajah
Orang Buta Kedua Meraba Bagian "Perut" Gajah
Orang Buta Ketiga Meraba Bagian "Kaki" Gajah , sedangkan
Orang Buta Keempat Meraba Bagian "Belalai" Gajah.
Ketika Masing Masing Orang Buta tersebut diminta untuk mendeskripsikan tentang Konsep definisi "Gajah" maka mereka akan menguraikan sesuai bagian yang mereka raba masing masing seperti berikut:
Orang Buta Pertama yg meraba "Telinga" mendeskrifsikan gajah itu Luas dan lebar terasa, kasar, tipis seperti tampah.
Orang Buta Kedua yg meraba "Perut" Mendeskripsikan gajah itu Besar kasar dan bulat seperti gentong atau Bedug di masjid.
Orang Buta Ketiga yg meraba "Kaki" mengatakan gajah itu tegak lurus kuat seperti pohon kelapa, dan
Orang Buta Terakhir "keempat" yg meraba "Belalai" mengatakan gajah itu bulat lentur seperti Ular dan bersuara nyaring.
Dari kisah tersebut di atas dapat kita lihat bahwa masing masing orang buta tersebut mendeskripsikan "Gajah" secara benar akan tetapi apa yang digambarkan oleh masing masing bukanlah Deskripsi "Gajah" secara keseluruhan sehingga hasil yang diperoleh akan berbeda.
Konsep Definisi yang belum bersifat Universal dari masing masing orang buta di atas mengakibatkan hasil yang berbeda. Tulisan ini penulis kaitan dengan perbedaan data Jumlah Penduduk ataupun Jumlah Pemilih yang berbeda jauh khususnya berkenaan dengan Pemilihan Presiden PILPRES 2014 di Kabupaten PAPUA yang sangat berbeda jauh antara Data Jumlah Penduduk terutama Versi BPS yang lebih kecil dari Jumlah DPT di Kabupaten Papua tersebut.
Perbedaan ini menurut penulis adalah akibat dari perbedaan Konsep Definisi Penduduk yang dipergunakan oleh masing masing (dalam hal ini BPS dan Dinas Kependudukan/KPU) yang belum satu kata.
Minggu, 05 Januari 2014
Konsep Definisi Istilah dalam PDB/PDRB
Konsep Definisi Istilah dalam PDB/PDRB
Laju Pertumbuhan PDB/PDRB Economy Growth
Konsep dan DefinisiMenunjukkan pertumbuhan produksi barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian dalam selang waktu
tertentu. Pertumbuhan ekonomi sama dengan pertumbuhan PDB. Untuk menghitung pertumbuhan ekonomi
menggunakan PDB atas dasar harga konstan dengan tahun dasar tertentu untuk mengeliminasi faktor kenaikan harga.
Indeks Implisit Implicit Indeks
Konsep dan Definisi
Suatu indeks yang menunjukkan tingkat perkembangan harga di tingkat produsen (producer price index).
Distribusi Persentase PDB/PDRB Distribution of GDP/GRDP
Konsep dan DefinisiSumbangan dari setiap satuan unit pengamatan (lapangan usaha dalam PDB/PDRB sektoral atau penggunaan
dalam PDRB/PDB pengeluaran) terhadap total agregat PDRB/PDB yang dinyatakan dalam persentase.
PDB/PDRB per Kapita GDP/GDRP per Capita
Konsep dan DefinisiMerupakan nilai PDB atau PDRB dibagi jumlah penduduk dalam suatu wilayah per periode tertentu.
KONSEP DEFINISI PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)
Produk Domestik Bruto (PDB)/Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Gross Domestic Product/Gross Domestic Regional Product
Gross Domestic Product/Gross Domestic Regional Product
Konsep dan Definisi:
Nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu wilayah dalam suatu jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).
PDB terbagi menjadi dua jenis yaitu PDB atas dasar harga berlaku (nominal) dan atas dasar harga konstan (riil). PDB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun, sedangkan PDB atas dasar harga berlaku digunakan untuk menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan suatu negara. Untuk PDRB, secara keseluruhan sama dengan PDB, yang membedakan hanya PDB dalam lingkup nasional dan PDRB dalam lingkup yang lebih kecil (wilayah).
Terdapat tiga pendekatan untuk menghitung PDB/PDRB, yaitu pendekatan produksi,pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.
Pendekatan produksi Menghitung nilai tambah seluruh kegiatan ekonomi dengan cara mengurangkan biaya antara dari masingmasing total nilai produksi (output) tiap tiap sektor atau subsektor, yang terbagi
dalam 9 sektor.
Pendekatan pengeluaran PDB diperoleh dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima oleh
faktor‐ faktor produksi.
Pendekatan pendapatan PDB diperoleh dari hasil penjumlahan semua komponen permintaan akhir.
Langganan:
Komentar (Atom)